berbagi kemesraan tentang keanekaragaman budaya Nusantara

Tampilkan postingan dengan label Home. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Home. Tampilkan semua postingan

Tradisi Bagi Anak di Lio



Berdasarkan Undang - Undang Nomor 35 Tahun 2014 yang merupakan perubahan dari Undang - Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, Pasal 1 menerangkan beberapa pengertian bahwa Anak adalah seseorang yang belum berusia 18 (delapan belas) tahun, termasuk anak yang masih dalam kandungan. Perlindungan Anak adalah segala kegiatan untuk menjamin dan melindungi Anak dan hak-haknya agar dapat hidup, tumbuh, berkembang, dan berpartisipasi secara optimal sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan, serta mendapat perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi. Orang Tua adalah ayah dan/atau ibu kandung, atau ayah dan/atau ibu tiri, atau ayah dan/atau ibu angkat. Wali adalah orang atau badan yang dalam kenyataannya menjalankan kekuasaan asuh sebagai Orang Tua terhadap Anak. Anak Terlantar adalah Anak yang tidak terpenuhi kebutuhannya secara wajar, baik fisik, mental, spiritual, maupun sosial. Selengkapnya download 👇👇

UU No 35 Thn 2014 download disini

Anak Menurut Budaya Lio

Anak dalam bahasa Lio "ana". Beberapa ungkapan yang menerangkan "ana" dalam bahasa Lio bisa kita lihat dibawah ini. Ungkapan - ungkapan tersebut sangat mempengaruhi dengan status serta menjadikan anak bagian dari patriliear atau matrilinear.  
  1. Ngeu gi ngeda pe'pa. (berkembang biak).
  2. Nge le'ka tuka be'ka le'ka kambu. Beberapa suku kata ini menerangkan dilahirkan dari rahim ibu. "Nge le'ka tuka" berkembang dari perut. "Be'ka le'ka kambu". Kata "be'ka" artinya berkembang dan meluas. Seperti ungkapan "ae be'ka" artinya banjir dan meluap dari sungai. Kata "kambu" artinya lemak. Jadi "Nge le'ka tuka be'ka le'ka kambu" mengandung makna terlahir dari perut atau rahim. 
  3. Kolo nia. Kolo artinya kepala. Nia artinya dahi. Jadi "kolo nia" menerangkan bahwa anak tersebut menjadi bagian dari garis keturunan ayah / patrilinear atau garis keturunan ibu / matrilinear. 
  4. Bagi ana atau bagi anak. Bagi anak terjadi karena jenis perkawinan ayah dan ibu dari anak tersebut.
  5. Wangga wo'o kili rembi. Wangga artinya pikul. Wo'o artinya busur panah. Kili artinya membawa sesuatu wadah yang digantung sebelah menyebelah dipundak. Rembi artinya bakul anyaman dengan tali panjang berukuran sedang.
  6. Mutu gu ia pai atau ha'i sada mutu. Ungkapan ini  menerangkan kematian.
  7. Ka kana ru'e nggewu. Ungkapan kepada ayah yang sampai ajalnya tidak bisa membawa istri dan anak - anaknya ke rumahnya untuk menjadikan istri dan anaknya patrilinear.

Sebagian ulayat di Lio sangat pegang teguh tradisi bagi anak. Dalam tradisi pembagian anak, sang anak akan menjadi bagian dari rumpun keluar ayah atau rumpun keluarga ibu. Anak yang yang meneruskan garis keturunan ayah akan bekerja di ladang, sawah milik sang ayah dan akan meneruskan tradisi leluhur di rumpun keluarga ayah. Begitupun kalau anak menjadi penerus generasi sang ibu. 

Baca Juga : Perkawinan Adat Lio 

Mungkin hal semacam ini sangat sulit dipahami karena tidak terjadi di ulayat Lio lainnya. Tetapi disebagai Lio sebut saja Wologai, Nduaria, Peibenga, Mukureku ,Wolobewa tradisi ini masih dipegang teguh sampai sekarang. 

Jadi "ana" menurut sebagian orang Lio yaitu "eo nge le'ka tuka ine kambu ame mo tau susu nggua nama bapu".

Tradisi Bagi Anak di sebagian Lio

Tradisi pembagian anak dimulai dengan jenis perkawinan dari ayah dan ibu sebelumnya. Tradisi yang menyebabkan terjadinya bagi anak yaitu dari jenis perkawinan "Dei ngai pawe ate" atau perkawinan yang terjadi atas dasar "suka sama suka" dari pasangan tersebut tanpa diketahui oleh orang tua dari pihak lelaki dan pihak wanita. Beberapa ungkapan yang menerangkan jenis perkawinan suka sama suka seperti "dei le'ka kaju pawe le'ka ae" atau "tei pare wole bewa jawa bupa ria" atau "tei taka te'a lo ere". 

Secara harafiah ungkapan "dei ngai pawe ate". Yang mana dei (suka) ngai (napas) pawe (baik) ate (hati) atau mengandung arti gadis yang dipilih karena cinta dan pria menyukainya. Juga diumpamakan “dei leka kaju pawe leka ae, yang mana dei (suka) le'ka (pada) kaju (kayu) pawe (baik) le'ka (pada) ae (air). Si pria megibaratkan kekasihnya seperti kayu dan air. Si pria menyukai kayu dan air tersebut. Perumpaan lainnya “tei taga te’a lo ere” yang mana "tei (lihat) taga (betis) te’a (menguning atau matang) lo (tubuh) ere (mempesona) mengandung arti si pria memilih kekasih karena melihat betis seperti bulir padi yang menduning, badannya halus nan cantik. Perumpaan lainnya “tei pare wole bewa jawa dupa ria” yang mana tei (lihat) pare (padi) wole (tangkai) bewa (panjang) jawa (jagung) dupa (batang) ria (besar). Si pria mengibaratkan kekasikan yang dinaksir ibarat setangkai padi panjang dan sebatang jagung besar. 

Semua perumpaan diatas menerangkan bahwa pria memilih kekasihnya karena rasa kagum dan perasaan cinta kepala kekasihnya. Dari rasa kagum dan cintanya dia mengutarakan perasaannya kepada wanita pilihannya. Si wanita tersebut menerima cinta si pria tersebut. Mereka sepakat untuk membina rumah tangga atas dasar suka sama suka. Karena suka sama suka atau dasar perkawinannya “cinta” maka tahap perkawinanya tidak dilalui dari  tahap awal. Tidak melalui proses masuk minta. Perkawinan jenis ini terjadi bisa karena mempelai wanita sudah hamil, mempelai laki-laki langsung tinggal dirumah perempuan dan langsung jadian. 

Sekarang lebih dikenal dengan istilah “kawin masuk” dimana mempelai laki-laki akan meninggalkan keluarganya dan tinggal bersama dengan keluarga mempelai wanita. Dalam kehidupan sehari – hari sang ayah dari mempelai wanita akan mengatakan “pati topo lelo eo bosu talo, pati su’a dhawe eo lemba talo” (diserahkan tofa dan parang untuk bekerja kebun yang tidak ada habisnya). Artinya mempelai pria dengan status kawin masuk akan di bahasakan : “ko’o lo’o re’wo boko” (jadi bagian dari keluarga wanita). Bila statusnya sampai mempelai laki meninggal, maka istilah untuk orang terssebut menjadi “ka kana ru’e ngewu”. 

Perkawinan jenis ini bukan berarti yang pria tidak bisa lagi menebuskan belis. Bisa ditebus dengan beberapa syarat, diantaranya :

  1. Saat saudara laki dari sang istri/ipar/eja menikah, dimana ada bahasa “weta wa’u nara nai” (saudara perempuan keluar rumah saudara laki-laki masuk rumah), artinya dalam hal membelis semua tuntutan dari keluarga istrinya ipa/eja menjadi tanggungjawabnya. Ini terjadi ketika saudara laki - laki atau dari istrinya menikah atau dalam bahasa Lio dikenal dengan sebutan "eja". Setelah mengetahui tuntutan dari calon istri dari eja dia sanggup memberikan semua belis dari keluarga besar eja nya. 
  2. Bila mempelai sudah banyak memberi hewan atau lainnya, “dia” bisa mengeluh dan berkata, “wara ku baja r’wa, kolo ku ro r’wa”. Disini sang pria dan keluarganya sudah siap untuk membicarakan belis, ulang dari awal. Yang sudah diberikan bisa diperhitungkan dan bisa juga tidak diperhitungkan atau dikenal dengan sebutan "ngawu lewa".

Pembagian anak terjadi saat ayah atau ibu meninggal dunia. Saat meniggal dunia baik keluarga ayah ataupun keluarga ibu dahulukan tradisi penguburan. Dari pihak ayah akan melaksanakan tradisi membawa atau menanggung hewan atau yang dikenal dengan sebutan "wurumana". Sampai pada malam ke empat setelah penguburan, keluarga dari sang ayah akan ke rumah keluarga sang ibu, menyampaikan bahwa ada hal yang harus dibicarakan. Keluarga sang ibu juga akan menyampaikan kepada semua tetuanya untuk ikut serta dalam forum tersebut. 

Baca Juga : Wurumana

Ketika sudah berkumpul, dari keluarga sang ayah akan menyampaikan maksud kedatangan mereka. 

"kami mai po ina na, ndu po no'o ana, ema, eda, tu'a kita eo mutu gu ia pai. Kami no ate mete, ra eo kai reki mo tau kili rembi wangga wo'o ghe ngeni. Mo tau susu nggua nama bapu ema ghe. 
Artinya : Maksud kedatang kami ini dengan anak, bapak, keponakan (ayah bila sang ayah yang meninggal) yang sudah meninggal. Kami dengan harapan anak dari dia juga untuk melanjutkan tradisi leluhur dikeluarga bapaknya.

Dalam pembagian tradisi pembagian anak, bisa dilaksanakan apabila selama hidupnya sang ayah selalu melaksanakan "wurumana" setiap ada hajatan di keluarga sang ibu. Dengan wurumana tersebut, menjadi pertimbangan keluarga besara sang ibu apakah bisa dilaksanakan tradisi pembagian anak atau tidak. Kalau disetujui karena layak dilaksanakan pembagian anak, maka putra dan putri sulung menjadi penerus garis keturunan sang ibu. Ungkapan lokalnya dikenal dengan "sa weta sa nara ana sa're pa'a" atau "ana wawo pare". Sedangkan anak ke 3 dan seterusnya meneruskan garis keturunan ayah.

Apabila anak putra tunggal maka dilihat saat sang anak menikah. Ketika sang anak menikah dan pem-beli-san sang anak ditanggung bersama makan sang anak akan dikenal dengan sebutan, "ana ke'la embu wisa". Yang artinya sang putra tersebut meneruskan garis keturunan ayah dan juga garis keturunan ibu. Kalau putri tunggal jarang terjadi pembagian. Sang putir menjadi penerus garis keturunan ibu. Sang putri dianggap manusia asli dalam rumah, yang sewaktu - waktu bisa dinobatkan menjadi "ine ria fai ngg'e" atau yang melaksanakan semua seremonial adat dalam rumah.

Tradisi pembagian anak tersebut berdampak pada kehidupan sehari - hari. Sejak terjadi kesepakatan pembagian anak, maka yang meneruskan garis keturunan ayah akan bekerja pada lahan atau tanah garapan keluarga sang ayah. Sebaliknya dengan anak yang meneruskan garis keturunan dang ibu akan bekerja di lahan atau tanah milik keluarga sang ibu. Pembagian lahan garapan ini tidak berlaku pada tanah atau lahan yang diperoleh karena usaha bersama dari ayah dan ibu. 

Tulisan ini masih jauh dari kata "Sampoerna". Apabila ada koreksi, saran dan kritiknya muatkan dalam komentar bibawah ini.

Share: Youtube

Peran Guru Dalam Mempertahankan Budaya Indonesia Untuk Membentuk Karakter Siswa

Oleh : Sr. Maria Hedwiq,KFS

Sr. Maria Hedwiq, KFS
Indonesia mempunyai keberagaman sosial yang terdiri dari budaya, suku bangsa, agama, adat istiadat, dan lain-lain. Prinsip yang digunakan sebagai dasar Negara Indonesia adalah Bhineka Tunggal Ika, yang memiliki arti berbeda- beda tapi tetap satu jua. Oleh karena itu Indonesia memiliki berbagai macam suku bangsa, bahasa, agama, adat-istiadat, budaya, dan lain-lain, tetapi menjadi satu kesatuan bangsa. 

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia dijelaskan budaya merupakan pikiran, akal budi, dan adat istiadat (Manurung et al., 2017). Kebudayaan menjadi ciri khas suatu bangsa yang melambangkan jati diri bangsa tersebut. Seiring perkembangan zaman, Indonesia memiliki kebudayaan yang sangat beragam. Untuk melestarikan kebudayaan yang ada di Indonesia dibutuhkan rasa nasionalisme yang tumbuh pada individu untuk menumbuhkan rasa kebanggaan terhadap bangsa Indonesia. masing-masing budaya di setiap daerah di indonesia memiliki keunikan yang berbeda-beda. Kebudayaan akan selalu mengalami perubahan-perubahan dari waktu ke waktu sehingga masyarakat yang memiliki kebudayaan itu harus tetap mengenal, memelihara, dan melestarikan kebudayaan yang dimiliki agar setiap perubahan yang terjadi tidak menghilangkan karakter asli dari kebudayaan itu sendiri. 

Upaya pelestarian budaya dilakukan guna berjalannya pembentukan karakter warga Negara pada suatu bangsa. Pembentukan karakter suatu Negara merukapan hal penting dilakukan untuk menjaga eksistenti suatu bangsa atau Negara. Eksistensi suatu bangsa akan bertahan apabila bangsa tersebut memiliki identitas yang kuat (Wulan & Affandi, 2016). Pembentukan karakter tidak dapat dibentuk dalam waktu singkat, diperlukan kateladanan, kesabaran, pembiasaan, dan pengulangan. Menurut kamus besar bahasa Indonesia Karakter merupakan sifat, atau ciri watak seseorang yang membedakan dari orang lain (Widiyastuti, 2010). Pembentukan karakter harus sejak dini diberikan kepada siswa terutama pada jenjang sekolah dasar.

Pendidikan karakter dapat dilakukan pada proses pembelajaran atau lainnya. Dalam proses pembelajaran, karakter dapat dibentuk melalaui metode, materi dan strategi yang diberikan oleh guru dalam setiap mata pelajaran yang diajarkan (Widiyastuti, 2010). Bukan hanya melalui proses pembelajaran saja, karakter juga dapat dibentuk melalui kegiatan sekolah yaitu ekstrakulikuler. Ekstrakulikuler merupakan Kegiatan ekstrakulikuler merupakan serangkaian kegiatan terprogram yang dilakukan diluar kegiatan pembelajaran yang bertujuan untuk menambah pengetahuan baru, mengasah kemampuan serta menumbuhkan minat dan bakat siswa (Apriyanti & Hidayat, 2019). Bukan hanya hal itu saja, kegiatan ekstrakulikuler merupakan salah satu kegiatan yang dapat menumbuhkan karakter siswa, termasuk diantaranya adalah kepemimpinan, disiplin, kejujuran, dan lain-lain. Hal tersebut juga dilakukan di Sekolah Indonesia, yang memiliki visi yaitu mewujudkan pusat pendidikan dan kebudayaan yang menghasilkan peserta didik: bertaqwa, berbudi, berbudaya, berprestasi, dan berwawasan global. Budaya sekolah yang ada di Sekolah Indonesia mencakup, budaya jujur, kerjasama, disiplin. Hal tersebut tidak terlepas dari peran guru atau pendidik Sekolah Indonesia. 

Kegiatan Pramuka dalam rangka peringati HUT Soempah Pemoeda 2021

Peranan guru di Sekolah sangat kuat dalam mempertahankan budaya Indonesia untuk membentuk karakter siswa. 

Guru berperan dalam usaha membantu dalam membentuk siswa yang berbudaya dan berkarakter, khusunya karakter Cinta Tanah Air Indonesia Dalam mempertahankan budaya Indonesia di Sekolah memerlukan konsep pembelajaran berbasis budaya, disamping konsep pem-belajaran peran guru juga dibutuhkan dalam mempertahankan Indonesia, hal tersebut merupakan upaya peran guru dalam mempertahankan budaya indonesia untuk membentuk karakter siswa di Sekolah. 

Konsep Pembelajaran Berbasis Budaya Indonesia

Pada saat pandemi, pemerintah telah meng-himbau rakyatnya untuk sosial distancing dengan menerapkan sistem Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ). Hal tersebut tentunya akan membatasi ruang gerak manusia untuk bersosial dan beraktivitas diluar rumah (Ahsani, 2020). Konsep pembelajaran pada saat pandemi ini, menerapkan sistem pembelajaran BDS (Belajar Di Sekolah) untuk siswa yang rumahnya dengan sekolah atau yang memakai kendaraan pribadi. Namun demikian, pembelajaran tersebut tetap dilakukan sesuai dengan protokol kesehatan. Dan satu kelas dibagi 2 kelompok jadi, masuk secara bergantian. Selain BDS, juga menerapkan sistem BDR (Belajar Dari Rumah). Meskipun pembelajaran dilakukan dirumah, namun siswa tetap diberi dampingan oleh guru yaitu dengan cara menerapkan instrumen yang bisa memantau bahwa siswa tetap meningkatkan karakter mereka walau harus belajar dirumah. Belajar dirumah bisa dilakukan dengan panduan orangtua. Meski demikian, anak didik dirumah harus diberi edukasi yang positif dan produktif. Dengan adanya kemajuan digital yang sangat canggih, belajar dirumah bisa dilakukan dengan cara online tanpa harus bertatap muka dengan guru dan teman. Unruk itu, dalam mengoptimalkan sistem belajar dirumah bisa berjalan dengan baik harus diperlukan sarana dan prasarana yang baik pula seperti fasilitas internet dalam bentuk kuota belajar (Ahsani, 2020). Di Sekolah mempunyai prinsip pembelajaran yang berupa guru benar-benar mendidik peserta didik supaya mereka menjadi orang yang memiliki karakter sejak kecil. Kemudian, pada saat pembelajaran dirumah juga menyediakan feedback laporan orang tua. Indonesia yang memiliki keanekaragaman, dapat diterapkan lewat berbagai kesenian, yang ada. Kesenian inilah yang nantinya berkembang menjadi ciri khas . Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia dijelaskan budaya merupakan pikiran, akal budi, dan adat istiadat (Manurung et al., 2017). Kebudayaan merupakan suatu hasil kegiatan dan penciptaaan akal budi manusia, yang meliputi: kepercayaan, kesenian, serta adat istiadat. Selo Soemardjan dan Soelaiman Soemardi berpendapat bahwa budaya adalah segala sesuatu yang di dapat dari akal budi manusia. (Damayanti, 2015). Karena tidak hanya bekerja dengan akal budinya saja, tetapi menggunakan konsep yang kuat, serta perasaan dan kehendak.

Budaya sebagai pendidikan, dalam hal menyampaikannya bukan sekedar dilakukan pada kompleks pendidikan saja, tetapi lingkungan keluarga juga mempengaruhi. Lingkungan juga memiiki peran yang sangat penting terhadap perilaku manusia, khususnya di lingkungan sekolah. Karena disekolah banyak harapan agar bisa memperbaiki perilaku siswa dari yang kurang baik menjadi lebih baik lagi, dan seterusnya. Sekolah juga memberikan lingkungan yang menunjang bagi kesuksesan dari pendidikan yang telah diharapkan.

Memperkenalkan budaya dilembaga pendidikan bisa diajarkan lewat mata pembelajaran seni budaya. Ada tiga macam model pembelajaran berbasis budaya antara lain : pertama, model pembelajaran berbasis budaya melalui permainan tradisional dan lagu-lagu daerah. Kedua, model pembelajaran berbasis budaya melalui cerita rakyat, dan yang ketiga yaitu model pembelajaran berbasis budaya melalui penggunaan alat-alat tradisional (Wuryandani, 2010).


Peran Guru dalam Mempertahankan Budaya Indonesia

Keaneka ragaman budaya yang ada di Indonesia adalah sesuatu yang tidak dapat dipungkiri keberadaannya (Abdullah, 2016). Peran guru dalam mempertahankan budaya Indonesia sangat kuat untuk membentuk karakter siswa. Apalagi di tengah-tengah kehidupan dengan warga Negara asing, pasti muncul kekhawatiran akan hilangnya budaya negeri sendiri. Budaya sekolah merupakan kualitas sekolah didalam kehidupan sekolah yang tumbuh dan berkembang berdasarkan nilai-nilai dan spirit tertentu (Eva, 2016). 

Hasil karya yang mengandung keindahan dan dapat di ekpresikan dengan sebuah gerakan, suara, dan ekspresi lainnya adalah kesenian (Fauzan & Nashar, 2017). Kesenian dapat di kembangkan melalui sebuah pengetahuan-pengetahuan yang nantinya menjadi budaya ataupun tradisi yang menjadi ciri khas dari masyarakat tersebut. factor lingkungan menjadi salah satu peran yang sangat penting terhadap perilaku manusia, khususnya ada pada lingkungan sekolah. Peran guru dalam mempertahankan budaya Indonesia adalah dengan tetap memperkenalkan budaya Indonesia di dalam lembaga pendidikan tersebut. Guru bisa berperan mengajarkan kesenian lewat mata pelajaran seni budaya, ada tiga macam model pembelajaran berbasis budaya, antara lain bisa dengan melalui permainan tradisional, lagu-lagu daerah, penggunaan alat-alat tradisional dan lain sebagainya (Wuryandani, 2010). Dengan adanya mata pelajaran seni budaya, siswa menjadi sering mempelajari bagaimana kebudayaan Indonesia itu, dan guru juga berperan memperkenalkan dan mengajarkan kebu-dayaan apa saja yang ada di Indonesia. Karena guru memiliki komponen dalam pembentukan budaya sekolah dan juga memiliki peranan yang penting untuk mencapai suatu tujuan pendidikan (Mulyati et al., 2013).

Peran guru dalam mempertahankan budaya Indonesia, guru juga tidak hanya mengajarkan tentang pengetahuan umum saja, akan tetapi juga mengajarkan kesenian. Kesenian sendiri diajarkan melalui Kegiatan ekstrakulikuler yang dapat menambah wawasan pengetahuan siswa tentang kebudayaan Indonesia. Meliputi kesenian Tari daerah , alat music tradisional, membuat hasta karya termasuk melukis batik yang menjadi ciri khas Negara Indonesia. Tidak bernaung di langit Indonesia bukan berarti peserta didik kehilangan akar budaya dan tradisi sekolah yang melahirkan banyak alumni, dengan begitu cukup membekali mereka dengan kesenian yang memadai. Guru sebagai fasilitaor dalam mempertahankan budaya Indonesia tentunya dengan terus memperkenalkan banyak budaya dan kesenian bangsa Indonesia melalui kegiatan ekstrakulikuler ataupun dengan pelajaran seni budaya tersebut dengan tujuan agar peserta didik mampu mempelajari bahkan mempraktekkan kesenian ataupun budaya Indonesia. 

Peran guru dalam Mempertahankan Budaya Indonesia untuk Membentuk Karakter Siswa di Sekolah

Pendidikan berperan penting dalam perkembangan karakter seseorang. Karena melalui pendidikan menjadi sarana dalam membangun karakter dan watak seseorang dengan cara pembelajaran yang baik atau terarah. Pendidikan berkarakter dilakukan secara terpadu sesuai jalurnya, baik dengan cara formal, informal maupun non formal (Anam & Sakiyati, 2019). 

Semua usaha yang bisa dilakukan guru/pendidik dalam mempengaruhi karakter siswanya merupakan definisi dari pendidikan berkarakter. Guru berperan dalam usaha membantu sesorang/peserta sehingga mereka bisa memper-hatikan, memahami, dan melakukan nilai-nilai yang berkaitan dengan etika di Sekolah.

Peranan Guru di Sekolah sangat kuat dalam mempertahankan budaya Indonesia untuk membentuk karakter siswa

Ditengah-tengah kehidupan dengan warga negara asing pastilah menjadi kekhawatiran akan hilangnya budaya Negara sendiri. Tidak bernaung dilangit Indonesia bukan berarti peserta didik kehilangan akar budaya dan tradisi sekolah yang melahirkan banyak alumni ini membekali mereka dengan kesenian yang cukup memadai. Peserta didik mahir memainkan musik, tarian daerah, dan membuat hasta karya termasuk melukis batik. Keceradasan memang diperlukan, namun karakter kecerdasan tersebut tidak akan bermakna. Pendidikan karakter yang ada di Sekolah tidak hanya didapatkan dalam proses kegiatan pembelajaran saja, akan tetapi pendidikan karakter juga bisa didapatkan melalui kegiatan ekstrakulikuler. Kegiatan ekstra-kulikuler merupakan serangkaian kegiatan ter-program yang dilakukan diluar kegiatan pembe-lajaran yang bertujuan untuk menambah pengetahuan baru, mengasah kemampuan serta menumbuhkan minat dan bakat siswa.

Ada beberapa karakter yang bisa diterapkan di sekolah, antara lain yaitu :

  1. KedisiplinanPeserta didik harus memiliki karakter disiplin dengan cara melakukan kebiasaan yang bisa mencerminkan sikap disiplin terhadap peserta didik. Sikap disiplin yang timbul dalam diri peserta didik atas kemauan sendiri tanpa ada unsur keterpaksaan dari orang lain. Di sekolah menerapkan tata tertib sekolah yang harus dilakukan peserta didik agar mampu menumbuhkan karakter kedisiplinan (Fitriyah, 2018)
  2. Cinta budaya. Sekolah merupakan wadah kreativitas agar siswa tidak hanya pandai dalam bidang akademik tetapi juga wadah imajinasi dan kreasi siswa. Hal itu dapat dilihat bahwa Sekolah memiliki program ekstrakurikuler tari. Pentingnya dalam memahi belajar tari di jenjang sekolah dasar (SD) tidak hanya di nilai dari estetikanya saja, melainkan juga di pahami melalui pembuatan ide sampai ide tersebut dapat terealisasikan. Mulai dari pemilihan tari yang cocok untuk di ajarkan di jenjang sehingga dapat di apresiasi melalui pertunjukan pensi yang di gelar setiap akhir tahun pelajaran. Karena ditengah-tengan hidup diantara orang lain, hal itu bisa memberikan kebanggaan terhadap Bangsa Indonesia, dan bisa memperkenalkan budaya-budaya Indonesia kepada masyarakat luar negeri. Tujuan diadakannya pantas seni akhir tahun pelajaran guna sebagai upaya melestarikan serta mengembangkan budaya Indonesia Tujuan adanya pendidikan dan kebiasaan yang dilakukan di lingkungan sekolah maupun lingkungan keluarga yaitu menambah cinta terhadap budaya yang abadi Indonesia. 
  3. Cinta Tanah Air. Mempunyai rasa kecintaan terhadap tanah air Indonesia merupakan hal sangat penting yang harus dimiliki peserta didik, karena sebagai perwujudan kebanggaan terhadap tanah airnya, rela berkorban bagi bangsa dan negaranya, dan menjunjung tinggi harkat dan martabat bangsa. Seseorang yang memiliki rasa cinta tanah air akan melakukan segala hal untuk melindungi, menjaga kedaulatan, dan kehormatan. Rasa cinta tanah air yang dimiliki seseorang inilah yang akan mendorong seseorang dalam membangun negara yang penuh dedikasi. Maka dari itu, rasa cinta terhadap tanah air perlu dikembangkan disetiap jiwa individu yang termasuk warga negara supaya tujuan hidup bersama bisa tercapai (Tarmizi, 2017).

Terdapat berbagai macam kegiatan ekstra-kulikuler yang mampu membentuk karakter cinta tanah air yang ada di Sekolah Indonesia bisa melalui kegiatan PASKIBRAKA, pramuka, dan kegiatan-kegiatan ektrakulikuer lainnya yang mampu mengasah kemampuan siswa. Kegiatan tersebut tentu tidak lepas dari peran guru yang berperan ganda dalam melestarikan dan membentuk karakter siswa di Sekolah

Kesimpulan

Konsep pembelajaran dalam masa pandemi ini menerapkan sistem pembelajaran BDS (Belajar Di Sekolah) dan BDR (Belajar Di Rumah). Selain itu, guru juga memiliki peran dalam mempertahankan budaya Indonesia. Yaitu dengan cara mengajarkan kesenian. Kesenian sendiri diajarkan melalui Kegiatan ekstrakulikuler yang dapat menambah wawasan pengetahuan siswa tentang kebudayaan Indonesia. Kesenian tersebut meliputi Tari daerah, alat music tradisional, membuat hasta karya termasuk melukis batik yang menjadi ciri khas Negara Indonesia. Dalam pelestarian tersebut tentu saja terdapat campur tangan dari guru yang selalu membagi ilmu pengetahuan kepada siswanya mengenai kebudayaan Indonesia. pembentukan karakter sudah di tanamkan sejak memasuki jenjang taman kanak-kanak dan bingkai dalam berbagai macam bentuk kegiatan. Karakter yang diterapkan dalam sekolah tersebut meliputi kedisiplinan, cinta budaya, dan cinta tanah air yang berupa ekstrakulikuler PASKIBRAKA, yang bersemboyan “Satu untuk semua, semua untuk satu”. Dengan begitu diharapkan semua guru dapat mempertahankan budaya indonesia untuk membentuk karakter siswa.

Penulis adalah pengajar di SMPK Amal dan Kurban (Amkur) Sambas, Kalimantan Barat.

Share: Youtube

Patrilinear dan Matrilinear di Lio Ende

 oleh Ludger S

Lio merupakan satu wilayah adat di Kabupaten Ende yang terdiri dari beberapa suku dan clan adat. Beberapa sebutan yang sering dilafalkan seperti Lio Utara yang tersebear di kecamatan Wewaria, Maurole, Kota Baru dan Detukeli. Lio Tengah yang tersebar di kecamatan Detusoko, Kelumutu dan sebagian Wolowaru dan sebagian Ndona Timur. Lio Barat yang mendiami kecamatan Nonda dan Ndona Timur. Lio Selatan yang mendiami kecamatan Wolowaru, Wolojita, sebagian Ndona Timur. Lio Timur yang tersebar di kecamatan Lio Timur dan Ndori. 

Wilayah Lio terkenal dengan multikulturalnya. Beberapa suku (Unggu, Mbuli, Lise, Moni, dll), dengan budaya, dialeg bahasa, beberapa agama, dan tradisi sangat memeriahi kehidupan sehari-hari masyarakat Lio. Masyarakat yang beragam ini hidup dan berinteraksi dengan nyaman tanpa adanya perbedaan yang meretakkan integrasi ke-Lio-an mereka. Sebagai makhluk sosial, tentu saja mereka bersosialisasi dengan mengatasnamakan teman, kepentingan, dan perasaan. Integrasi ini juga termasuk adanya pernikahan antara dua orang yang memiliki latar belakang suku yang berbeda.

Siklus kehidupan dari kelahiran hingga kematian selalu menjadi suatu sejarah kehidupan dari setiap individu manusia. Diantara kelahiran dan kematian tentu ada perkawinan. Disetiap tatanan sosial budaya, perkawianan dikategorikan sebagai matrilinear, patrilinear dan multilinear. Sebagai penekanan disini matrilinear adalah struktur masyarakat geneologis pertalian darah menurut garis ibu sedangkan patrilinear adalah struktur masyarakat geneologis pertalian darah menurut garis ayah dan multilinear adalah struktur masyarakat geneologis pertalian darah menurut garis ayah dan juga ibu. Apabila patrilinear dan matrilinear bersatu, maka imbas yang ditimbulkan adalah ke sang anak. Sang anak akan kesulitan untuk mendapatkan garis keturunan dari ayah atau ibunya karena jika berada di daerah kedua orang tuanya, maka ia tidak dianggap asli dari daerah keduanya orangtua. Hal ini terjadi karena apabila ia berada di daerah sang ibu yang menganut patrilinear namun suaminya tidak berasal dari daerah tersebut maka anak mereka tidak dianggap mendapatkan garis suku dari sang ibu, begitu pula bila berada di daerah sang ayah yang menganut matrilinear.

Hal diatas adalah contoh negatif dari perkawinan multikultural. Namun jika ditilik melalui kacamata yang berbeda, perkawinan multikultural akan berdampak bagus bagi anak mereka karena sang anak akan belajar menerima perbedaan di dalam hidupnya secara langsung. Ia mampu menghargai budaya-budaya, orang-orang, bahasa-bahasa yang berbeda, mampu beradap tadi dengan baik, dan mampu memiliki sikap toleransi yang baik.

Jadi anak dari hasil perkawinan multikultural bukanlah anak "gadungan" seperti kebanyakan orang awam menyebutnya, terkhusus di daerah pedalaman yang mendapat tetangga yang memiliki anak dari hasil perkawinan multikultural.

Patrilinear dan Matrilinear di Lio

Seperti budaya lainnya di berbagai belahan dunia, di Lio juga mempunyai budaya perkawinan. Dari setiap perkawinan tentunya setiap pasangan menginginkan memiliki anak, cucu yang selanjutnya menjadi generasi penerus keluarga. Ini tentu menjadi kebahagiaan tersendiri. 

Sebagian suku di Lio menganut patrilinear, sebagaiannya matrilinear, mengacu pada jenis perkawinan adat. Apakah jenis perkawinan "dei ngai pawe ate (suka sama suka), ruru gare (lamaran), pa'a tu'a (perkawinan yang terjadi karena perkawinan generasi terdahulu)". 

Baca Juga : Perkawinan Adat Lio

Dari jenis perkawinan yang dilaksanakan terdahulu sangat mempengaruhi hak anak terhadap garis keturunan ayah atau garis keturunan ibu. Ditiap jenis perkawinan adat tersebut kita akan mengenal hantaran atau mahar atau belisnya. Belis atau mahar menjadi unsur penentu apakah anak mereka menjadi patrilinear atau matrilinear.

Patrilinear

Patrilineal adalah suatu adat masyarakat yang mengatur alur keturunan berasal dari pihak ayah. Kata ini sering kali disamakan dengan patriarkat atau patriarki, meskipun pada dasarnya artinya berbeda. Patrilineal berasal dari dua kata bahasa Latin, yaitu pater yang berarti ayah, dan linea yang berarti garis. Jadi, patrilineal berarti mengikuti garis keturunan yang ditarik dari pihak ayah. 

Sementara itu, patriarkat berasal dari dua kata bahasa Yunani, yaitu pater yang berarti "ayah", dan archein yang berarti memerintah. Jadi, patriarki berarti kekuasaan berada di tangan ayah atau pihak laki-laki.

Sebagian besar beberapa suku di Lio menganut Patrilinear atau mengikuti garis keturunan yang ditarik dari pihak ayah. Seorang gadis dengan atau tanpa mahar akan meninggalkan keluarganya dan bersatu serta menjadi bagian dari keluarga suami. Anak - anak yang lahir dari hasil perkawinan mereka menjadi rumpun keluarga besar keluarga laki - laki. Mereka akan bekerja dilahan atau kebun milik keluarga ayah. Hubungan kekerabatan dengan keluarga ibu akan tetap terjalin dalam hal "wurumana". Seperti pada saat kelahiran, pernikahan anak - anak mereka peran paman atau saudara dari ibu sangat besar. 

Matrilinear

Matrilineal adalah suatu adat masyarakat yang mengatur alur keturunan berasal dari pihak ibu. Kata ini sering kali disamakan dengan matriarkhat atau matriarki, meskipun pada dasarnya artinya berbeda. Matrilineal berasal dari dua kata bahasa Latin, yaitu mater yang berarti ibu, dan linea yang berarti garis. Jadi, matrilineal berarti mengikuti garis keturunan yang ditarik dari pihak ibu. Sementara itu matriarkhat berasal dari dua kata bahasa Yunani, yaitu mater yang berarti ibu, dan archein yang berarti memerintah. Jadi, matriarkhi berarti kekuasaan berada di tangan ibu atau pihak perempuan.

Baca Juga : Wurumana

Dalam adat matrilineal, anak menghubungkan diri dengan ibunya (berdasarkan garis keturunan perempuan). Sistem kekerabatan ini anak juga menghubungkan diri dengan kerabat ibu berdasarkan garis keturunan perempuan secara unilateral. Dalam masyarakat yang susunannya matrilineal, keturunan menurut garis ibu dipandang sangat penting, sehingga menimbulkan hubungan pergaulan kekeluargaan yang jauh lebih rapat dan meresap diantara para warganya yang seketurunan menurut garis ibu yang menyebabkan tumbuhnya konsekuensi yang lebih besar daripada garis keturunan bapak

Seorang anak menjadi matrilinear disebabkan dari jenis perkawinan ayah dan ibu mereka. Seperti pada jenis perkawinan suka sama suka atau "dei ngai pawe ate". Perkawinan jenis ini tidak menuntut belis atau mahar. Seberapapun yang dihantar oleh laki - laki tidak menjadi hitungan. Kelak berdampak pada anak, dimana anak akan menjadi matrilinear yang berhak atas warisan keluarga ibu mereka dan dibawah pengawasan sang paman atau saudara laki-laki dari ibu. Sang suami atau bapak terkesan kawin masuk. 

Kelak jikalau ada pembicaraan lanjutan dari keluarga laki-laki, maka anak pertama dan kedua tetap menjadi bagian dari keluarga ibu. Dalam sebutan lokal di Lio dikenal dengan sebutan "ana wawo pare". Sedang anak yang ke-3 dan seterusnya menjadi patrilinear. Bagaimana kalau anak hanya 1 atau 2 orang? Anak tersebut tetap menjadi matrilinear.  


Share: Youtube

RPJMD KABUPATEN ENDE TAHUN 2014-2019

Kebijakan Pembangunan Kabupaten Ende Tahun 2014-2019

Share: Youtube

Cerita Rakyat "Ata Wolo"

 Oleh : Ludger S


Suatu ketika hiduplah satu keluarga yang juga sebagai tuan tanah atau sebagai mosalaki (tua adat). Sebut saja namanya, Beke. Dia mempunya tiga orang anak, dua putra dan satu putri. Kedua putra bernama "Ndange dan Ngenda. Sedangkan yang putri sebut saja "Kibhi". Ketiga anaknya masing - masing sudah berkeluarga. 

Menjadi kebiasaan yang wajib bahwa setiap tahun dikmapung Beke harus melaksanakan seremonial adat tahunan yang disebut "Nggua". Ini dilakukan sebagai simbol syukuran atas keberhasilan dalam kehidupan mereka. Keberhasilan itu berupa hasil panen yang melimpah, kehidupan mereka yang diberkati oleh Tuhan dan leluhur. Nggua juga sebagai simbol bahwa setelah acara seremonial tersebut dimulainya musim tanam untuk tahun berikutnya. 

Baca Juga : Bulan dalam Bahasa Lio

Sebelum dimulainya acara Nggua mereka harus menyiapkan daging dari binatang atau hewan yang didapati dari hutan atau dalam bahasa Lio disebut, "nake oto". Suatu malam Beke menginstruksikan kepada kedua putranya untuk berburu daging hutan. Besok setelah ada daging hutan akan dimulainya seremonial adat atau "nggua".

Pagi - pagi benar berangkatlah Ndange dan Ngenda untuk berburu. Dengan beberapa ekor anjing piaraan mereka mulai menyusuri hutan terdekat. Akhirnya sebelum matahari tepat diatas kepala mereka sudah mendapat tiga ekor musang. Sambil beristirahat dipinggir kali kedua kakak beradik mulai memikirkan bagaimana cara membagi hasil buruan mereka.

Ndange, sebagai kakak mulai membagi musang tersebut. Ini kamu, ini saya lalu yang ini siapa? Dicobanya hal yang sama beberapa kali. Ini kamu, ini saya lalu yang ini untuk siapa? Dalam bahasa Lio, ina kau, ina aku na eo ina sai? 

Sudah beberapa kali sang kakak Ndange membagi itu, tetap tidak terbagikan yang satu ekornya. Akhirnya sang adik Ngenda mengambil alih dan berkata, Kak, coba saya bagi. Sang adik mulai membagikan hasil buruan. "ina kae, ina aku ina sai? Dilakukannya berulang - ulang beberapa kali. Tetapi tidak ada hasilnya. Yang satu ekornya tetap tidak terbagikan. 

Sementara itu dikampung sang bapak, Beke sudah mulai gelisah. Matahari sudah condong kebarat sudah mendekati bibir gunung di belakang kampung. Bapak Beke bertanya ke orang - orang yang ada, apakah kamu melihat Ndange dan Ngenda? Semua menjawab tidak tau dan tidak ketemu dengan kedua anaknya. Dalam kegelisahan akhirnya Bapak Beke meninta bantuan kepada suami anaknya untuk mencari sampai ketemu kedua putranya. 

Baca Juga : Hukum Adat Lio

Dengan semangat sang suang dari anak putrinya pergi mencari kedua iparnya. Ip[ar dalam bahasa Lio dipanggil dengan sebutan "Eja". Akhirnya sambil menyusuri daerah hujan dia berinisiatif untuk memanggil kedua ejanya. Ejaaaaa....... eja......eja.... Beberapa saat kemudian dia menemukan kedua ejanya dipinggi kali. Kedua ejanya langsung menyambut dengan pertanyaan. "ngere emba ai? (bagaimana?) Sambil terengah - engah sang eja menjawab, "aku eo ema si'i gae miu ga. leja leu rewa na miu iwa tei rewo". (saya disuruh bapak untuk mencari kamu. Matahari sudah condong kebarat tetapi kamu belum muncul kekampung).

Ndange, "ngere ina eja, kami na rewa senea dapa luwu. ta,... dapa luwu eko telu, kami menga imu rua we". (begini eja, kami sudah dapat jatah sejak tadi tetapi yang didapat 3 ekor sedangkan kami hanya 2 orang). Sambung ejanya. Nah coba bagi diantara kamu dua. Ndange langsung ambil alih untuk membaginya. Kembali dengan rumusan yang sama, ini kamu, ini saya ini siapa? Berulang kali Ndange lakukan itu. Ganti dengan sang adik Ngenda. Ina kae, ina aku ina sai? Ngenda juga mengalami hal yang sama, tidak bisa membagi ketiga ekor musang untuk dau orang. 

Akhirnya sang eja meminta untuk membagikan hasil buruan kakak beradik itu. Sang eja duduk bersila dikedua kakak beradik lalu lakukan pembagian buruan itu. Ini eja Ndange, ini eja Ngenda ini saya. Akhirnya dengan senyum puas kedua kakak beradik berkata, mesi kau mai si nenea na deki rewa ghea nua ga kita na. (coba saja kamu datang sedari dati pasti kita sudah sampai dikampung). Akhirnya dengan senyum puas mereka bertiga meninggalkan hutan menuju kampung. Bapak Beke yang sudah dari awal menunggu akhirnya puas dengan kedatangan 2 putra dan anak menantunya. 

 

 

Share: Youtube

Mengenal Gaslighting dan Contoh Perilakunya

Gaslighting  adalah tindakan memanipulasi seseorang dengan memaksa korban untuk mempertanyakan pikiran, perasaan dan peristiwa yang dialami. Istilah gaslighting berasal dari drama dan film yang berjudul “Gaslight”. Dalam film tersebut, tokoh suami memanipulasi sang istri untuk meyakinkannya bawa ia akan gila. Baik disengaja maupun tidak, gaslighting adalah salah satu bentuk manipulasi. Ini dapat terjadi dalam hubungan kerja, pertemanan, keluarga, dan pasangan.

Tanda – tanda gaslighting

Dilansir dari Healthline, menurut Robin Stern, PhD, penulis buku The Gaslight Effect: How to Spot and Survive the Hidden Manipulation Others Use to Control Your Live, berikut adalah tanda-tanda seseorang menjadi korban gaslighting :

·        Merasa diri berbeda 

·        Menjadi lebih cemas dan tidak percaya diri

·        Sering mempertanyakan perasaan sendiri 

·        Merasa selalu salah 

·        Sering meminta maaf

·        Merasa ada sesuatu yang salah, tetapi tidak bisa mengidentifikasinya 

·        Sering mempertanyakan sikap dan perilaku sendiri 

·        Merasa terisolasi dari teman dan keluarga

·        Merasa sulit membuat keputusan

·        Merasa putus asa

·        Merasa sulit menikmati aktivitas yang disukai

Contoh gaslighting

·        Meremehkan perasaan 

·        Memberitahu bahwa ada orang-orang yang berbicara buruk tentang korban

·        Mengatakan suatu hal yang kemudian mereka bantah

·        Menyangkal peristiwa yang dialami korban

Apa yang harus dilakukan saat menjadi korban gaslighting?

Para pelaku gaslighting akan membuat korbannya meragukan diri sendiri, bahkan kewarasannya. Untuk gambaran yang lebih jelas, beberapa contoh tindakan gaslighting adalah sebagai berikut:
Menyadari bahwa diri sendiri adalah korban gaslighting adalah langkah awal yang penting untuk mencari pertolongan.

Langkah selanjutnya, korban bisa menemui psikiater, psikolog, atau terapis untuk melakukan konsultasi.

Para profesional tersebut dapat membantu korban memahami dan membantu korban keluar dari keraguan dan ketakutan yang dialami.

Korban akan diajak untuk belajar mengelola keraguan dan kecemasan serta mengembangkan keterampilan untuk mengatasinya.


Share: Youtube

Manfaat Luar Biasa Pohon Dadap

Oleh Ludger S 
Dadap atau pohon dadap atau bahasa lokal dikenal dengan sebutan "dero". Merupakan jenis tanaman perdu atau pohon pelindung. Banyak warga menggunakan sebagai pohon pelindung kopi. Siapa sangga "dero" atau
dadap atau Erythrina orientalis ini mengandung senyawa yang berfungsi untuk mencegah berbagai macam penyakit. Bahkan, menurut sejumlah penelitian, dadap serep mampu menurunkan risiko penyakit kanker. Tanaman dadap termasuk genus besar Erythrina dari keluarga Leguminosae. Genus ini terdiri dari 120 spesies dan tersebar di berbagai daerah tropis dan subtropis, termasuk Indonesia. Kalau di Flores hanya terdapat 2 jenis yang dalam bahasa lokalnya "dero" dan dero kera". Dero kera dimana seluruh kulit batangnya terdapat duri. 

Mencegah Infeksi Usus

Manfaat dadap serep yang pertama adalah mencegah terjadinya infeksi usus. Tanaman herbal ini memiliki kandungan senyawa yang berperan penting untuk mencegah terjadinya infeksi usus. Selain itu, dadap serep juga dipercaya mampu mengatasi gangguan lambung dan meredakan perut mulas. 
Cara mendapatkan manfaatnya cukup mudah, ambil daun dadap serep yang masih segar, lalu tumbuk bersama daun sosor bebek. Setelah itu, letakkan pada permukaan perut. Lakukan cara ini secara rutin dan teratur sampai perut mulas mereda.

Mengatasi Asam Urat  

Penyakit asam urat merupakan kondisi yang bisa menyebabkan rasa nyeri, pembengkakan, dan rasa panas di area persendian. Gangguan ini bisa terjadi di seluruh sendi tubuh, terutama pada jari tangan dan lutut. Salah satu cara mengatasi asam urat yang cukup efektif adalah menggunakan dadap serep. 
Untuk mendapatkan manfaat dadap serep untuk mengatasi asam urat cukup mudah, Anda hanya perlu mengonsumsi air rebusan dadap serep. Lakukan cara ini secara rutin dan teratur sampai asam urat mereda.

Mengatasi Rematik

Rematik atau peradangan sendi disebabkan karena sistem kekebalan tubuh menyerang jaringannya sendiri. Gejala paling umum yang dirasakan saat mengalami rematik yaitu adanya rasa nyeri sendi, kaku hingga bengkak. Rematik apabila tidak segara diatasi maka dapat menimbulkan gangguan pada kulit, paru-paru hingga jantung.
Salah satu cara mengatasi rematik secara alami ialah menggunakan daun dadap serep. Kandungan senyawa aktif pada daun dadap serep mampu memberi efek antiinflamsi yang dapat mengatasi gangguan persendian. Untuk mendapatkan manfaat dadap serep, terlebih dahulu panaskan daun di atas api kecil, lalu gunakan sebagai tapal pada bagian sendi yang mengalami nyeri.

Baca Juga : Potensi Kopi Wologai

Mengatasi Insomia

Insomnia merupakan gangguan tidur yang bisa menyebabkan penderitanya kesulitan tidur atau tidak cukup tidur. Kondisi ini bisa menyebabkan penderita mengalami pusing dan dapat mengganggu aktivitas keesokan harinya.
Bagi Anda yang memiliki gangguan insomnia, disarankan untuk mengonsumsi dadap serep secara teratur. Sebab, kandungan dadap serep mampu memberi efek tenang dan rileks. 
Caranya cukup mudah, pilih daun dadap serep yang masih segar, lalu gunakan sebagai lalapan untuk menu sehari-hari.

Menurunkan Panas (Demam)

Manfaat daun dadap serep yang pertama adalah mampu menurunkan panas. Masyarakat Indonesia telah lama menggunakan daun dadap serep ini untuk mengatasi demam karena sifat antipiretik yang dikandungnya.
Klaim ini dibuktikan dalam Jurnal MEDFARM: Farmasi dan Kesehatan yang menunjukkan bahwa ekstrak daun dadap serep dapat menurunkan suhu demam ketika diformulasikan dalam bentuk hidrogel.
Uji fitokimia dari berbagai bagian pada tanaman dadap serep ini juga dilaporkan memiliki kandungan saponin, flavonoida, polifenol, tanin, dan alkaloida.
Di mana kandungan zat-zat tersebutlah yang membuat tanaman dadap serep memiliki fungsi sebagai antimikroba, antiinflamasi, antipiretik, serta antimalaria.

Mengandung Senyawa Antikanker

Daun dadap serep diketahui memiliki senyawa antikanker lho, Moms. Sebuah studi yang dilakukan oleh dosen dari Universitas Airlangga menemukan bahwa dadap serep memiliki kemampuan sebagai antioksidan dan antikanker.
Bagian tanaman dadap serep yang diteliti adalah kulit batang, bagian yang sering digunakan oleh masyarakat sebagai obat tradisional.
Selain itu, pemilihan kulit batang juga dipilih karena merupakan bagian yang paling banyak menyimpan metabolit-metabolit sekunder dari bagian tanaman yang lain.
Hasil penelitian dengan spektrometer pun menunjukkan, setidaknya terdapat 5 senyawa yang ditemukan pada dadap serep, yakni phaseollinshinpterocarpin4’-O-methyl licoflavanonealpinumisoflavone, dan 8-prenyldaizein.
Kelima senyawa tersebut diuji aktivitasnya sebagai senyawa sitotoksik atau antikanker dengan sel kanker leukemia.
Dari uji tersebut diketahui bahwa senyawa 
phaseollin, shinpterocarpinalpinumisoflavone, dan 8-prenyldaizein pada dadap serep memiliki kekuatan yang moderat sebagai antikanker. Sementara senyawa 4’-O-methyl licoflavanone yang bersifat tidak aktif sebagai antikanker.
Artinya, dadap serep tidak bisa menyembuhkan penyakit kanker, tetapi bisa untuk pencegahan. Senyawa phaseollin dan senyawa 8-prenyldaizein pada dadap serep cukup aktif sebagai antioksidan, bahkan lebih aktif dari vitamin C. Senyawa antioksidan ini berfungsi untuk menekan radikal bebas dalam tubuh, memperkuat sistem kekebalan tubuh, mengurangi keriput, mencegah penyakit saraf, kanker, dan penyakit jantung koroner.

Baca juga : Hukum Adat Lio

Meluruhkan Dahak saat Batuk

Manfaat tanaman dadap serep yang berikutnya adalah digunakan untuk bantu meluruhkan dahak saat batuk.
Bagian tanaman yang digunakan dari dadap serep untuk meluruhkan dahak adalah kulit kayunya yang memiliki kandungan senyawa kimia alkaloid, eritradina, eritrina, eritramina, hipaforina, dan erisovina.
Dadap serep ini bersifat khas pahit, tetapi cukup efektif untuk mengatasi batuk berdahak.
Pasalnya, dadap serep mengandung beberapa senyawa kimia seperti alkaloid, saponin, flavonoid, dan polifenol yang memiliki aktivitas mukolitik sehingga mempermudah pengeluaran dahak.
Dalam Jurnal Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Islam Bandung, disebutkan bahwa flavonoid bekerja dengan cara memecahkan benang-benang mukoprotein dan mukopolisakarida yang berbentuk selaput gel dari mukus.
Sementara saponin bekerja dengan cara mengiritasi saraf vagal dengan tindakan refleks yang menyebabkan peningkatan sekresi lendir di saluran udara.
Sama seperti halnya dengan golongan senyawa kimia saponin, alkaloid bekerja dengan cara meningkatkan sekresi dahak dengan mekanisme refleksif.
Dari hasil penelitian tersebut, ditemukan bahwa kulit batang dadap serep memiliki potensi sebagai mukolitik, dikarenakan memiliki kemiripan golongan senyawa kimia flavonoid, alkaloid, dan saponin.

Memiliki Sifat Antimikroba

Tanaman dadap serep juga terbukti dapat menghambat pertumbuhan Candida albicans (C. albicans) dan Staphylococcus epidermidis (S. epidermidis).
C. Albicansis adalah salah satu spesies jamur dari genus Candida dan flora normal di saluran pencernaan, selaput lendir, saluran pernapasan, vagina, uretra, kulit dan di bawah kuku. C. Albicans dapat menjadi patogen penyebab infeksi seperti septikemia, endokarditis atau meningitis.
Sedangkan S. Epidermidisis merupakan salah satu spesies dari genus bakteri Staphylococcus, yang biasa ditemukan pada kasus klinis. Staphylococcus epidermidis umumnya dapat menimbulkan penyakit pembengkakan (abses) seperti jerawat, infeksi kulit, infeksi saluran kemih, dan infeksi ginjal
Sebuah penelitian dalam Journal of Chemical Natural Resources menunjukkan bahwa ekstrak daun dadap serep mengandung alkaloid, flavonoid, saphonin dan triterpenoid yang bersifat sebagai antimikroba.
Share: Youtube

Satuan Ukuran di Lio Ende

 Oleh : Ludger S




Dalam kehidupan sehari - hari tentu secara sadar maupun tak sadar kita menjalani ukuran atau takaran dalam satuan tertentu. Seperti saat kita ke kebun, ke kantor, ke sekolah dan aktivitas lainnya secara tak sadar kita telah mengukur kegiatan kita dengan satuan ukuran tertentu. Kita telah mengukur jarak dari rumah ke kebun ke sekolah, ketempat kerja. Selalu dan selalu mengukur setiap aktifitas kita dengan satuan ukuran panjang, lebar, luas, tinggi, dalam, besar, kecil, banyak sedikit dan lainnya. 

Berbagai jenis satuan ukuran :
1. Satuan Ukuran Panjang
2. Satuan Ukuran Luas
3. Satuan Ukuran Berat
4. Satuan Ukuran Volume
5. Satuan Ukuran Waktu 
Satuan Ukuran Panjang
Secara umum semua manusia didunia mengenal sistim metrik untuk mengetahui ukuran panjang. Beberapa negara seperti Amerika, India, menggunakan sistim imperial untuk mengetahui ukuran panjang. Di kebudayaan Lio kita akan mengetahui satuan ukuran panjang seperti :  
1. Fate atau Safate = seukuran ruas jari
2. Buku atau Sabuku = seukuran ruas bambu
3. Paga atau Sapaga = seukuran jengkal
4. Siku atau Sasiku = seukuran ujung jari sampai siku
5. Kasa atau Sakasa = sukuran ujung jari sampai setengah dada
6. Re'pa atau Sarepa = seukuran depa
7. Baga atau Sabaga = seukuran langkah
8. Tali atau Satali = seukuran tali
9. Be'la atau Sabe'la = seukuran bambu 
10. Ga'pe atau saga'pe = seukuran bambu yang sudah dipatok

Penggunaan dalam keseharian tergantung situasinya. Misalnya saat pembagian lahan tanah garapan, tuan adat akan menyebutkan satuan ukuran "satali sabela". Sehingga istilah adat saat pelaksanaan pembagian lahan garapan disebut dengan, "pati tali boka bela". Saat pembngunan rumah, sering menggunakan satuan panjang, "paga, siku, repa"

Pati Tali Boka Be'la, hanya digunakan saat pembagian lahan kepada "ana kalo fai walu" (warga ulayat adat). Lahan ini bisa dari pembukaan hutan adat, atau tanah adat lainnya. Dalam hal "pati tali boka be'la" satuan ukuran panjang yang digunakan, tali yang diambil dari hutan dan "be'la" berupa bambu yang sangat tipis. Maaf saya tidak tahu apa nama latin atau bahasa Indonesia nya. Tali dan be'la yang sudah disiapkan oleh mosalaki akan menjadi ukuran luas kebun warga. Sebutan lokal, "satali sabe'la". Yang mana tali menjadi ukuran panjang dan be'la menjadi ukuran lebar. 

Pembangunan Rumah. Dalam hal Pembangunan rumah, satuan ukuran panjang yang sering digunakan adalah, "paga, suku, re'pa, papa, ga'pe.Ini terungkap dalam Pembangunan "Keda" dengan sebutan "Sasiku sapaga".

Satuan Ukuran Luas
1. Kebe / Sakebe = sepetak sawah / ladang
2. Uma / Sauma = sekebun
3. Ngebo / Sangebo = sekebun
4. Tiwu / Satiwu = sekolam
5. Kuru / Sakuru = sepadang
Dalam keseharian satuan ukuran luas dapat dilihat di lahan garapan warga baik seperti "uma (kebun), rano (sawah)".  Di suku Lio ada lahan garapan warisan yang terdiri dari beberapa penggarap yang disebut "nge'bo"

Satuan Ukuran Berat
1. mbola/benga = bakul anyaman dari bahan bambo
2. nggala = khas adat untuk menyimpan emping dan beras seremonial 
3. rombo = serupa bakul  
4. boro 
5. lepo 
6. kidhe
 
Satuan Ukuran Volume
1. nge'nda
2. kopo
3. kuwi / ruwi
4. kumu

Satuan Ukuran Waktu
1. sa kobe = semalam
2. sa leja = sehari
3. Sa ngai = seukuran tarikan napas
4. Sa wula = sebulan
5. Sa kiwa = setahun

Share: Youtube

Informasi Covid-19

Total Tayangan Halaman

Popular

Facebook

Gerunion Creator

Wikipedia

Hasil penelusuran

Adsense

Recent Posts

Pepatah Lio

  • Ni Sariphi Tau Wini, Tuke Sawole ngara du nggonde.
  • Lowo Jawu Ae Ngenda.
  • Ndange Beke dan Ngenda Beke.