berbagi kemesraan tentang keanekaragaman budaya Nusantara

Konstruksi Bangunan Rumah Adat Lio Wologai

Oleh : Ludger S

Konstruksi Bangunan Rumah Adat Lio Wologai



Dalam arti umum, rumah adalah salah satu bangunan yang dijadikan tempat tinggal selama jangka waktu tertentu. Rumah bisa menjadi tempat tinggal manusia maupun hewan, namun untuk istilah tempat tinggal yang khusus bagi hewan adalah sangkar, sarang, atau kandang. Dalam arti khusus, rumah mengacu pada konsep-konsep sosial-kemasyarakatan yang terjalin di dalam bangunan tempat tinggal, seperti keluarga, hidup, makan, tidur, beraktivitas, dan lain-lain. Dalam kegiatan sehari-hari, orang biasanya berada di luar rumah untuk bekerja, bersekolah atau melakukan aktivitas lain. Aktifitas yang paling sering dilakukan di dalam rumah adalah beristirahat dan tidur. Selebihnya, rumah berfungsi sebagai tempat beraktivitas antara anggota keluarga atau teman, baik di dalam maupun di luar rumah pekarangan.

Rumah dapat berfungsi sebagai tempat untuk menikmati kehidupan yang nyaman, tempat untuk beristirahat, tempat berkumpulnya keluarga, dan tempat untuk menunjukkan tingkat sosial dalam masyarakat.

Konstruksi rumah berbentuk ruangan yang dibatasi oleh dinding dan atap. Rumah memiliki jalan masuk berupa pintu dengan tambahan berjendela. Lantai rumah biasanya berupa tanah, ubin, babut, keramik, atau bahan material lainnya. Rumah bergaya modern biasanya memiliki unsur-unsur ini. Ruangan di dalam rumah terbagi menjadi beberapa ruang yang berfungsi secara spesifik, seperti kolam renang, ruang kerja, ruang belajar, kebun, ruang olahraga, ruang cuci, laboratorium, pantry, perpustakaan, ruang bermain, taman bermain, kolam ikan, ruang musik, ruang doa, kamar tidur, kamar mandi, toilet (WC), ruang makan, dapur, ruang keluarga, ruang tamu, garasi, gudang, teras dan pekarangan.

Konstruksi rumah yang bagus harus memperhatikan efisiensi pemakaian energi. Konstruksi rumah hemat energi di Indonesia yang beriklim tropis tidak serumit konstruksi rumah di negara-negara yang beriklim subtropis, karena tidak ada perubahan musim yang ekstrem. Kebutuhan energi untuk pencahayaan, insulasi, ventilasi, pengaturan udara, dan lain-lain tidak sebesar rumah di negara-negara dengan empat musim. Efisiensi energi bisa dimaksimalkan dengan memakai pencahayaan alami di siang hari, tata letak lampu penerangan yang tepat, pemakaian lampu hemat energi, pemasanan ventilasi dan insulasi pada dinding, pemilihan atap yang tidak menyerap panas, dan pemakaian peralatan listrik yang hemat energi.

Dalam desain rumah hemat energi, termasuk didalamnya segala rancang bangunan yang ramah lingkungan, dengan meminimalkan penggunaan energi tidak terbarui dan mengoptimalkan pemanfaatan energi alami. Keterbatasan sumber daya alam membuat konstruksi rumah hemat energi menjadi semakin relevan mulai dari sekarang.



Rumah Adat di Wologai

Bentuk rumah secara umum berdiri dari beberapa tiang pancangan batu panjang ± 100 cm. batu ini adalah batu alam, bukan coran semen, beton atau sejenis lainnya. Sejak rencana pembangunan rumah, yang paling utama adalah izin dari “Mosalaki”  tua adat untuk seremonial pelatakan batu pertama atau lebih dikenal dengan sebutan “welu watu”.
Sejak orang belum mengenal semen istilah “welu watu”  disebut dengan “peso watu” (peletakan batu), dimana seremonial ini sendiri disebut dengan istilah “pije pare bara”. Beberapa jenis bahan yang harus disiapkan saat pelaksanaan “pije pare bara” seperti “wea/ngawu (emas bentuk lokal), nggako rano (eceng gondok), pare bara (beras putih), lengi nio (minyak kepala), ana manu (anak ayam) yang nantinya akan diletakan pada “l’ke p’ra” (sebuah tiang yang diyakini sebagai media prnghubung dengan leluhur dan Tuhan).

 

Urutan kontruksi rumah dari bawah ke atas sebagai berikut :

Lewu  (kolong)

Leke (tiang) : Sejak direncanakan akan membangun sebuah bangunan rumah, seperti biasa ratakan permukaan tanah dengan sebutan “ kali seka sa’o” (persiapan fondasi). Setelah “seka sa’o” dilanjutkan dengan pengambilan batu sebagai tiang  “le’ke sa’o” dengan jumlah yang selalu genap dan minimalnya 12 tiang/l’ke.

Tenga : tenga atau balok besar yang menyangga rumah dan langsung dipasang diatas tiang batu. Bentuk tenga berupa balok glondongan.

Isi : Letaknya setelah tenga sebagai penyangga dinding papan, tiang, alas papan lantai. Berbentuk balok dengan ukuran sesuai kebutuhan, 8 cm x 12 cm atau sesuai beban bangunan.

Gebe lewu : papan berukuran lebar, tebal dan selebar ukuran rumah yang dipasang pada tenda (beranda) rumah. Karena letak ruang tamu lebih rendah dengan ruang bagian dalam rumah gebe lewu berfungsi sebagai pengikatnya.
Dalo : balok sebagai alas papan lantai.


Sa’o (rumah)

Pene : Pene atau pintu. Rumah adat Lio tidak mempunyai pintu di beranda atau ruang tamu. Pintu dipasang untuk memasuki ruangan dalam rumah. Pene selalu ada dua lembar kiri dan kanan. Letaknya bagian tengah di atas gebe lewu. Yang bersamaan dengan pene ada “kume pene, benga susu, kata bendi”.

Tenda / maga : Ruang tamu. Tenda selalu dibangun bagian depan rumah. Setiap tamu yang datang, setelah menaiki tangga memasuki pintu tak berdaun langsung di tenda.

Lore :  Lore atau Lorong. Ketika memasuki rumah kita akan melewati pintu dan Lore. Kiri kanan lore terletak tunggu masak.

Waja : Tungku

Lata : Papan panjang sebagai tempat duduk
Dhembi lulu : serambi bagian belakang
Wisu : Wisu atau sudut. Merupakan tiang penyanggka rumah
Benga kebi : papan dinding
Loki : tempatnya dibelakang tungku. Bisa duduk.
Pne lo’o/pene mbasi : pintu kecil/pintu samping. Menyerupai jendela.



Ghubu : atap
Isi, Mangu, Benga toko, Gola, Jara, Isi ghubu, Soku, Eba, Tenda teo, Pate, Ki / nao, Watu Wula leja

Pentahapan kerja
Siapkan lokasi untuk pembangunan rumah atau “seka sa’o”.
Persiapan ramuam/bahan secara umum berupa pengadaan Leke, Tenga, Isi, Benga, Wisu, Kogo laba, Mangu, Isi ghubu, Ki / nao, Soku, Eba, dan lainnya.

Urutan pekerjaan bangunan
Wisu …., “naka wisu”, Dube nitu, Teka jala kuri, Ndeku leke, peja wisu, dari benga, pene lo’o, pene ria, lera, soro dalo, teo gebe lewu, reso wisu, gola, dari mangu, pije isi ghubu, kema kae, weka ndawa, beranda, nama souk, nama eba, ola teo, ate, peso wula leja, joka nitu, nai sa’o = ka nio mu’u tewu, semu remo / ka are kidhe dan seterusnya.

Nanti dijelaskan


Desain Rumah Tanpa Denah, bersama Bapak Paulus Lengga kita akan mengetahui urutan membangun Rumah Adat Wologai yang dimulai dari :
“Wisu …., “naka wisu”, Dube nitu, Teka jala kuri, Ndeku l’ke, p’ja wisu, dari benga, p’ne lo’o p’ne ria, l’ra, soro dalo, teo g’be lewu, r’so wisu, gola, dari mangu, pije isi ghubu, kema kae, w’ka ndawa, beranda, nama soku, nama eba, ola teo, ate, peso wula leja, joka nitu, nai sa’o = ka nio mu’u tewu, semu remo / ka are kidhe”. 






Share: Youtube

9 komentar:

  1. Balasan
    1. simo gemi (terima kasih), sdh berkunjung ke blog saya

      Hapus
  2. Thankyou om Ludger! Ini keren!

    BalasHapus
  3. Masih memegang tradisi sungguh luar biasa. Ditempat saya sudah tidak ada itu isitlah peletakan batu pertama. Langsung hajar saja.
    rumah hemat energi, mantap sekali.

    BalasHapus
    Balasan
    1. rumah yg tak lekang dihadang zaman hehehe, disinilah peradaban dibentuk dalam kekhasan lokal wologai. simo gemi

      Hapus

Informasi Covid-19

Total Tayangan Halaman

Popular

Facebook